Kamis, 15 Juni 2017

Mengenal Keanekaragaman Anggrek Di Lereng Selatan Gunung Merapi

Mengenal Keanekaragaman Anggrek Di Lereng Selatan Gunung Merapi

Di Jawa secara keseluruhan terdapat 731 species anggrek yang terdiri dari 130 genera. Jawa tidak memiliki genus / marga anggrek yang endemik. Jenis endemik di Jawa yang sangat terkenal adalah Vanda tricolor Lindl. Walaupun demikian kebanyakan orang tidak menyadari bahwa populasinya di dunia ini hanya terbatas di Jawa dan Bali saja (Whitten, et. al., 1996).
Di balik keganasannya, Gunung Merapi menyimpan kekayaan keaneka ragaman hayati utamanya anggrek yang cukup banyak. Daerah lereng Selatan Merapi merupakan daerah berbukit dan pegunungan datar. Ada berbagai tipe vegetasi yang melingkupi daerah tersebut, antara lain dataran rumput, semak belukar, dan daerah dengan vegetasi pohon - pohon besar. Beberapa daerah dari vegetasi tersebut masih terkondisikan alami. Struktur vegetasi yang demikian ini merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan anggrek, baik itu anggrek tanah maupun anggrek epifit.
Banyak yang belum diketahui tentang keanekaragaman jenis anggrek terutama jenis anggrek species yang ada di sekitar lereng Selatan Merapi. Backer (1968) dan Comber (1990) hanya memberikan sedikit informasi tentang keberadaan anggrek di Gunung Merapi.
Keberadaan anggrek di lereng Selatan Merapi harus diketahui dari segi jenis dan distribusinya. Sehingga usaha konservasi yang lebih mengutamakan pada sumber plasma nutfah anggrek akan lebih mudah.

Langkah pertama yang sangat penting adalah dengan koleksi dan identifikasi secara benar. Beberapa langkah awal telah dilakukan adalah eksplorasi dan identifikasi anggrek di lereng Selatan Merapi. Pada awalnya sekitar tahun 1993 seorang dosen dari Biologi Universitas Gadjah Mada yaitu Dr. Susiani Purbaningsih mengidentifikasi jenis anggrek yang ada di lereng Gunung Merapi ada sekitar 40an jenis. Selanjutnya pada sekitar tahun 2009 Yayasan Kanopi Indonesia telah menemukan sekitar 57 jenis anggrek. Kebanyakan anggrek tersebut adalah anggrek epifit (hidup menempel pada pepohonan). Dan dari data yang terbaru di lereng selatan Gunung Merapi terdapat hampir sekitar 95 jenis tanaman anggrek, hanya saja oleh karena faktor alam dan faktor manusia jumlah spesies anggrek yang ada di lereng Gunung Merapi jumlahnya semakin menyusut. 
Dari faktor alam contohnya seperti kejadian Oktober 2002 dimana kawasan hutan lindung dan cagar alam Plawangan Turgo pernah dilanda kebakaran. Demikian juga aktifitas Gunung Merapi sendiri yang tidak stabil dimana sering adanya kejadian erupsi Gunung Merapi pada tahun 2006 dan 2010 yang lalu. Bahkan terjangan erupsi Gunung Merapi pada tahun 1994 sempat menghanguskan habitat asli anggrek-anggrek asli yang ada di lereng selatan bagian barat Gunung Merapi.  
Sedangkan dari faktor manusia yaitu adanya aktifitas penduduk sekitar dan para pendatang sangat tinggi. Masyarakat banyak yang mengkoleksi anggrek dan kemudian menjualnya, misalnya di Taman Wisata Kaliurang. Atau kadang mendapat pesanan dari seseorang dari luar kota. Keadaan ini sungguh sangat mengkhawatirkan. Kadang-kadang mereka mengambil tanpa memperhatikan populasinya.
Dari 95 jenis tanaman anggrek yang ada di lereng Gunung Merapi ini ada sebagian yang masuk anggrek yang langka, semisal anggrek Rhomboda velutina yang tercatat hanya pernah ditemukan di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, pada 1921.

Tanaman anggrek  Rhomboda velutina
Rangkaian bunga Rhomboda velutina
Kuntum bunga Rhomboda velutina

Seperti telah disinggung di atas bahwa di Pulau Jawa ada jenis tanaman anggrek yang endemik yaitu Vanda tricolor. Jenis anggrek ini juga dapat dijumpai di lereng Gunung Merapi. Vanda tricolor ini oleh masyarakat sekitar Gunung Merapi biasa disebut dengan nama anggrek pandan. Anggrek berbunga putih dengan bercak totol ungu kemerahan ini tumbuh liar menempel pada batang pohon di lereng selatan Merapi wilayah Sleman. Dulunya V. tricolor merupakan tumbuhan yang banyak ditemukan an tumbuh liar di pohon dadap (Erythrina lithosperma), angsana dan pohon-pohon tahunan lainnya. Tetapi saat ini sangat sulit menjumpai anggrek tersebut di habitat aslinya. Karena anggrek anggrek tersebut telah diambil dari habitatnya untuk dikoleksi atau dijual.  Beberapa kali habitat tanaman Vanda tricolor ini terkena terjangan awan panas Gunung Merapi yang mengancam keberadaan tumbuhan anggrek khas lereng Gunung Merapi, Vanda tricolor ini. Kerusakan kawasan hutan lereng selatan gunung Merapi juga menyebabkan lambatnya pertumbuhan serta perkembangbiakan tanaman anggrek Vanda tricolor ini.
Anggrek lain yang juga menarik adalah anggrek kantong, Paphiopedilum javanicum (Reinw. ex Lindl) Pfitz. Anggrek tanah ini tumbuh di antara rumput - rumputan. Tetapi sayang anggrek ini juga sangat sulit dijumpai di habitatnya saat ini.
Terdapat juga anggrek yang nilai komersialnya kurang atau bahkan tidak ada. Biasanya anggrek tersebut adalah anggrek yang bisa dikatakan tidak menarik, karena bunganya kecil, bentuk dan warnanya juga tidak menarik. Anggrek yang demikian disebut sebagai anggrek botanik, yaitu anggrek yang jika dilihat dari sudut ilmu pengetahuan, khususnya taksonomi sangat penting, tetapi secara ekonomis kurang. Beberapa jenis anggrek botanik yang unik yang ditemukan adalah jenis jenis anggrek saprofit yaitu Didymoplexis pallens Griff., Epipogium roseum (D. Don) Lindl., dan Gastrodia crispa J.J.Smith. Anggrek ini mempunyai habitat yang khusus yaitu teduh, lembab, dan kaya akan humus. Ada juga jenis anggrek yang mempunyai siklus hidup sangat unik yaitu Nervilia punctata (Bl.) Makino. Pada fase vegetatif hanya berupa umbi dan daun saja. Kemudian disusul fase generatif dimulai dengan gugurnya dan kemudian muncul bunga dari umbinya. Jadi pada anggrek ini tidak pernah dapat dijumpai bunga dan daun muncul bersama sama.
Idealnya, upaya untuk konservasi adalah dengan membiarkan anggrek-anggrek tersebut tumbuh di habitatnya. Tetapi untuk saat ini upaya tersebut sangatlah tidak mungkin. Sebab aktifitas penduduk sekitar dan para pendatang sangat tinggi. Masyarakat banyak yang mengkoleksi anggrek dan kemudian menjualnya, misalnya di Taman Wisata Kaliurang. Atau kadang mendapat pesanan dari seseorang dari luar kota. Keadaan ini sungguh sangat mengkhawatirkan. Kadang-kadang mereka mengambil tanpa memperhatikan populasinya. 
Sejak 2002, Yayasan Kanopi Indonesia bekerja sama dengan Balai TNGM dan Kelompok Tani Ngudi Makmur membangun tempat konservasi anggrek di Dusun Turgo. Menurut Musimin warga Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, usai musibah erupsi melanda lereng Merapi tahun 1994, yang juga merusak sebagian besar endemik anggrek di Gunung Merapi. 



Musimin memperlihatkan koleksi anggrek miliknya di rumah penangkaran di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Bapak Musimin mulai mengumpulkan anggrek sekitar tahun 2000. Berangkat dari keinginan menyelamatkan tanaman ini, terutama jenis khas Merapi, seperti Vanda tricolor yang kini sudah langka. Melalui program adopsi, Musimin bersama beberapa rekannya yang tergabung dalam kelompok tani Ngudi Makmur berupaya memulihkan habitat anggrek. Tanpa kenal lelah mereka memasuki hutan gunung itu demi mencari tanaman anggrek untuk kemudian dikembangbiakkan. Mulanya, pengetahuan mengenai budidaya anggrek dipelajari Musimin secara otodidak dengan berbekal naluri kecintaan terhadap flora tersebut. Melalui kerja sama dengan Yayasan Kanopi ini, lambat- laun Musimin mulai belajar cara merawat anggrek yang baik dan benar. Saat ini sudah ada lima rumah penangkaran dengan ribuan tanaman anggrek di dalamnya. Di kebun milik Musimin sendiri terdapat lebih dari 70 varietas anggrek, beberapa bahkan merupakan temuan baru. Di tempat itu, bibit-bibit anggrek asli Merapi dikembangbiakkan dan dipelihara hingga tumbuh dewasa. Jika jumlah bibit anggrek dinilai sudah cukup banyak, sebagian tanaman itu akan dikembalikan ke habitat aslinya di kawasan TNGM.
Sebagian tanaman endemik itu ada yang dilepasliarkan di kawasan hutan Merapi. Proses pelepasliaran dilakukan secara bertahap sejak Februari 2015. Minat masyarakat untuk mengadopsi anggrek khas lereng Merapi sejauh ini cukup baik.
Sudah ada puluhan ”orang tua asuh” dan tanaman yang telah mereka adopsi dirawat oleh pembudidaya. Setelah siap, maka akan dilepasliarkan oleh pihak yang mengadopsi anggrek tersebut. Karena kelak akan dilepas ke alam, anggrek-anggrek ini sudah dikondisikan sejak pembudidayaan oleh petani.
Rata-rata hanya disirami air satu hari atau dua hari sekali tergantung tipe. Selain itu tanpa penggunaan pupuk karena saat berada di alam bebas nanti, anggrek itu tidak akan mendapat pupuk. ”Butuh waktu lama bagi anggrek untuk bertahan hidup setelah dilepasliarkan, bisa sampai dua tahun.
Karena itu kami minta semua pihak ikut berkomitmen menjaga dan melestarikan setelah tanaman itu dibebaskan ke alam liar.Saat ini telah dilakukan koleksi dan budidaya anggrek Vanda tricolor Lindl. Usaha ini dilakukan oleh kelompok karang taruna di Dusun Pelemsari, Desa Cangkringan. Pengembangan budidaya anggrek Vanda tricolor Lindl. masih menggunakan cara yang sangat sederhana. Sehingga pengembangannya kurang maksimal.
Adalagi Titi, seorang pemilik kebun anggrek Titi Orchid di Jalan Boyong, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, DIY sedang mengupayakan beberapa langkah, termasuk pemberian bibit anggrek kepada siapa saja yang berniat membudidayakannya.
Selain itu juga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta telah berupaya alternatif perbaikan untuk melestarikan Vanda tricolor, melalui pembentukan unit pelaksana budidaya yang disebut kelompok tani konservasi. Meski demikian, budidaya yang dilakukan oleh para kelompok tani konservasi selama 3,5 tahun kurang menunjukkan perkembangan memuaskan.
Selain itu juga masih ada lagi program adopsi anggrek untuk menghimpun dana sekaligus mengampanyekan penyelamatan anggrek di Merapi. Peluncuran program itu diikuti dengan pengembalian sejumlah tanaman anggrek ke habitat aslinya, yakni di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman. Selain Balai TNGM, sejumlah pihak, misalnya Yayasan Kanopi Indonesia dan Kelompok Tani Ngudi Makmur, juga terlibat dalam kegiatan ini. Tanaman anggrek di lereng selatan Gunung Merapi perlu dilestarikan agar keanekaragaman hayati di kawasan itu bisa terjaga. Caranya bisa bermacam-macam, termasuk melibatkan masyarakat dalam program adopsi. Program Adopsi Anggrek Merapi dibuat untuk memperkuat upaya pelestarian anggrek yang sudah berjalan.Dalam program tersebut, masyarakat diajak terlibat melestarikan anggrek dengan menyumbangkan dana. Dana yang terkumpul dipakai untuk perawatan anggrek selama dua tahun.

Pelepas liaran anggrek Vanda tricolor di lereng selatan Gunung Merapi oleh komponen masyarakat
 
Usaha ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak yang berminat terhadap usaha konservasi. Diperlukan orang orang yang cukup mengerti terhadap dunia peranggrekan, yaitu para pembudidaya dan ahli taksonomi anggrek. Akhirnya, siapa saja yang mengerti dan benar benar tertarik pada anggrek haruslah berusaha agar bagian dari hidupan liar ini tetap ada selamanya, untuk meyakinkan bahwa generasi mendatang juga masih dapat menikmati keindahannya.

Daftar Jenis Anggrek di Lereng Selatan Merapi :
1. Acriopsis javanica Reinw. ex Bl.
2. Anoectochilus reinwardtii Bl.
3. Appendicula alba Bl.
4. Appendicula pauciflora Bl.
5. Arundina graminifolia (D.Don.) Hochr.
6. Agrostophyllum sp
7. Bulbophyllum absconditum J.J.Sm.
8. Bulbophyllum flavescence (Bl.) Lindl.
9. Bulbophyllum sp
10. Calanthe flava (Bl.) Morren
11. Ceratostylis backeri J.J.Sm.
12. Ceratostylis sp
13. Coelogyne speciosa (Bl.) Lindl.
14. Coelogyne sp
15. Corymborchis veratrifolia (Reinw.) Bl.
16. Cymbidium lancifolium Hook
17. Cymbidium bicolor Lindl.
18. Dendrobium crumenatum Sw.
19. Dendrobium heterocarpum Wall ex Lindl.
20. Dendrobium mutabile (Bl.) Lindl.
21. Dendrobium saggitatum J.J.Sm.
22. Dendrochilum simile Bl.
23. Didymoplexis pallens Griff.
24. Epipogium roseum (D.Don.) Lindl.
25. Eria iridifolia Hook. f.
26. Eria oblitterata (Bl.) Rchb.f.
27. Eria retusa (Bl.) Rchb.f.
28. Eria veruculosa J.J.Sm.
29. Gastrochilus sororius Schltr.
30. Gastrodia crispa J.J.Sm.
31. Goodyera reticulata (Bl.) Bl.
32. Habenaria multipartita Bl. ex Kraenzl.
33. Habenaria loerzingii J.J.Sm.
34. Liparis pallida (Bl.) Lindl.
35. Liparis montana (Bl.) Lindl.
36. Liparis sp
37. Macodes petola (Bl.) Lindl.
38. Malaxis kobi (J.J.Sm.) J.B.Comber
39. Malaxis koodersii J.J.Sm.
40. Malaxis latifolia J.E.Smith
41. Nervillia punctata (Bl.) Makino
42. Oberonia similis (Bl.) Lindl.
43. Paphiopedilum javanicum (Reinw. ex Lindl) Pfitz.
44. Pecteilis susannae (L) Raf.
45. Phaius tankervilliae (Banks ex l’Herit) Bl.
46. Pholidota globosa (Bl.) Lindl.
47. Pholidota ventricosa (Bl.) Rchb.f.
48. Pholidota carnea (Bl.) Lindl.
49. Phreatia plexauroides Rchb.f.
50. Pteroceras teysmanni (Miq.) Holtt.
51. Schoenorchis juncifolia Bl. ex Reinw.
52. Spathoglottis plicata Bl.
53. Spiranthes sinensis (Pers) Ames
54. Thrixspermum acutilobum J.J.Sm.
55. Trichotosia sp
56. Tropidia curculigoides Lindl.
57. Vanda tricolor Lindl.


 Acriopsis javanica Reinw. ex Bl.  
Anggrek ini penyebarannya sangat luas hampir ke seluruh Indonesia dan Asia Tenggara. Bunganya berukuran mini dan dapat berbunga sampai puluhan kuntum banyaknya dalam sekali berbunga. Anggrek ini cukup menyukai sinar matahari langsung.

 
Anoectochilus reinwardtii Bl.

Appendicula alba Bl.

 Appendicula pauciflora Bl.

Arundina graminifolia (D.Don.) Hochr.

Agrostophyllum sp 

Bulbophyllum absconditum J.J.Sm.

 
 Bulbophyllum flavescence (Bl.) Lindl.

 Bulbophyllum sp

Calanthe flava (Bl.) Morren

Ceratostylis backeri J.J.Sm.

 Ceratostylis sp

 Coelogyne speciosa (Bl.) Lindl.

 
Coelogyne sp

 Corymborchis veratrifolia (Reinw.) Bl.

Cymbidium lancifolium Hook

Cymbidium bicolor Lindl.

Dendrobium crumenatum Sw.

 Dendrobium heterocarpum Wall ex Lindl.

Dendrobium mutabile (Bl.) Lindl.

Dendrobium saggitatum J.J.Sm.

 Dendrochilum simile Bl.


 Didymoplexis pallens Griff.




Epipogium roseum (D.Don.) Lindl.

Eria iridifolia Hook. f.

Eria oblitterata (Bl.) Rchb.f.

Eria retusa (Bl.) Rchb.f.

 Eria veruculosa J.J.Sm.

Gastrochilus sororius Schltr.
 
 Gastrodia crispa J.J.Sm.

Goodyera reticulata (Bl.) Bl.

Habenaria multipartita Bl. ex Kraenzl.

 Habenaria loerzingii J.J.Sm.
 
Liparis pallida (Bl.) Lindl.

 Liparis sp



Macodes petola (Bl.) Lindl.

Malaxis kobi (J.J.Sm.) J.B.Comber



Malaxis koodersii J.J.Sm.

Malaxis latifolia J.E.Smith

Nervillia punctata (Bl.) Makino

Oberonia sp

Paphiopedilum javanicum (Reinw. ex Lindl) Pfitz.


Pecteilis susannae (L) Raf.

Phaius tankervilliae (Banks ex l’Herit) Bl.
 Pholidota globosa (Bl.) Lindl.



Pholidota ventricosa (Bl.) Rchb.f.

Pholidota carnea (Bl.) Lindl.

Phreatia plexauroides Rchb.f.
  
 Schoenorchis juncifolia Bl. ex Reinw.


Spathoglottis plicata Bl.

Spiranthes sinensis (Pers) Ames


Thrixspermum acutilobum J.J.Sm.

Trichotosia sp


Tropidia curculigoides Lindl.

 Vanda tricolor Lindl.

Referensi :
Amelia Hapsari, 2017, "Selamatkan 70 Varietas, Tangkar Ribuan Anggrek. Musimin, Pelestari Anggrek Khas Merapi", http://suaramerdeka.com
Anonim, 2015, "95 Jenis Anggrek Tumbuh di Kawasan Merapi", http://nationalgeographic.co.id.
Gloria Samantha, 2011, "Populasi Anggrek Merapi Nyaris Punah", http://nationalgeographic.co.id.
Sulistiono, 2009, "Anggrek Lereng Selatan Merapi', Kanopi Indonesia.  

Foto dari berbagai sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar