Selasa, 28 Juni 2011

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA ANGREK

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA ANGREK

Timbulnya hama dan penyakit pada anggrek disebabkan oleh banyak factor. Antara lain disebabkan oleh iklim yang menunjang berkembang biaknya hama dan penyakit itu. Bisa juga faktor biologis hewan-hewan itu sendiri. Pada masa tertentu, setelah dewasa dan kawin mereka segera menaruh telur pada tanaman. Ini merupakan faktor luar yang tidak bias kita ubah. Paling banter kita hanya bisa mengekang perluasannya agar tidak merugikan. Sedangkan yang merupakan faktor intern yaitu yang disebabkan oleh kesalahan pemilik anggrek sendiri meliputi cara penanaman, kebersihan lingkungan dan perawatan yang kurang teliti.

Untuk mengatasi ketidakramahan alam, misalkan hujan dan panas matahari, bisa dengan jalan membuat naungan dari plastic gelombang. Sedangkan untuk mengurangi teriknya matahari, boleh merentangkan kawat kasa atau jala plastic di atas kumpulan tanaman. Itu sudah cukup bagi kesehatan anggrek, paling tidak mereka memperoleh iklim yang sesuai dengan apa yang dituntut, sehingga anggrek yang cocok di daerah sejuk misalnya akan bisa juga di tanam di daerah dataran rendah semisal Jakarta atau Semarang.

Kalau kebun kelewat lembab, terutama di musim hujan, pot anggrek boleh diikat kawat kemudian digantung. Dengan demikian pot itu terhindar dari berbagai hama yang menyukai iklim lembab. Sebaliknya kalau cuaca begitu kering sampai tanaman kurang segar, kita bisa mengatasinya dengan menyediakan bak air di bawah rak pot anggrek. Air yan menguap ke atas membuat suasana lembab.

PENGENDALIAN HAMA

Pengendalian hama bekicot

Khusus dalam pengendalian hama bekicot yang menyerbu pada malam hari buta, ada dua cara pembasmian.

Yang pertama, dengan mencampurkan obat Metadeks dalam dedak halus dan membasahinya dengan air secukupnya. Campuran ini lalu ditaruh di tempat-tempat yang sering dilewati bekicot. Pasti bekicot akan lebih tertarik dan memakan didangan lezat ini ketika merayap menuju pot anggrek. Begitu bekicot kenyang dan obat metadeks bereaksi dalam ususnya maka matilah bekicot tersebut.

Yang kedua, dengan membuat larutan 1 cc Dieldrin 50 % 25 P dicampur 1 liter air. Atau 6 – 8 cc Folidol E 605 dalam 10 liter air. Pot anggrek direndam dalam larutan ini. Kalau perlu perendaman diulangi setiap seminggu sekali. Maka pot yang beracun seperti ini tidak akan pernah didekati lagi oleh bekicot.

Selain hama bekicot, hama dan penyakit yang menyerang anggrek kalau dikumpulkan memang cukup banyak. Karena itu cukup menjemukan untuk menjelaskan satu persatu. Dalam bahasan kali ini hanya akan ditampilkan beberapa jenis hama dan penyakit yang penting saja dan sering merongrong usaha kita.

Dengan mengenali ciri-ciri hama penyebab, gejala-gejala yang ditimbulkan, dan cara mengendalikannya kiranya daftar hama anggrek dan penyakit anggrek ini dapat dipakai sebagai pedoman.

SKEMA HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN ANGREK

1. Trips. Dapat berpindah dengan cepat. Menyerang semua bagian tumbuhan.

2. Bintik coklat kehitaman dengan pinggiran ungu. Bunga yang terinfeksi harus segera dipetik.3. Aphid. Senang sekali memakan dan merusak kuncup bunga.4. Kutu Mealy bug yang bersembunyi di lekukan daun muda dan tangkai bunga. Menghisap cairan tanaman dan menhasilkan embun madu penundang semut serta cendawan.


5. Tiga serangkai pemakan daun. Bergerak di malam elap dengan daya rusak yang amat besar.

6. Virus mosaic cymbidium, biasa menghinggapi hampir semua bagian tanaman. Sangat sulit dibasmi.

7. Spider mites merah, suka meninggalkan kotoran seperti sarang laba-laba di tempat terlindung.8. Spider mites kuning kehijauan terkadang agak merah menyebabkan permukaan daun berlekuk-lekuk.

9. Kutu sisik coklat, meningalkan bercak coklat pada permukaan daun. Sulit sekali diberantas.

10. Kutu perisai mengerooti daun meninggalkan bercak pucat.

11. Bercak coklat hitam, daun berlubang. Disebabkan oleh adanya cendawan.

12. Kumbang moncong hitam merusaktudung akar.


NO

HAMA PENYEBAB

GEJALA

PENANGGULANGAN

1

Tungau atau Kutu perisai. Berwarna merah, punya 4 pasang kaki. Hewan ini sangat kecil, sehingga perlu diamati lewat kaca pembesar. Sering terdapat dalam jumlah sangat banyak sebagai "ledakan hama" terutama di musim kemarau.

Menempel pada pelepah daun, berwarna kemerahan karena jumlahnya banyak. Bekas serangan berupa bercak kehitaman dan merusak daun.

Pada tahap awal, masih bisa dibasmi secara mekanis yaitu dengan cara digosok dengan kapas dan air sabun. Akan tetapi kalau serangan sudah kelewat parah harus disemprot dengan insektisida dengan konsentrasi larutan 2 cc / liter air.

2

Semut. Umumnya semut hitam dan semut lembut yang tidak suka bersarang pada pohon buah-buahan. Mereka bersarang di dalam pot atau di balik pot.

Selain merusak akar dan kadang tunas muda, kehadiran semut suka mengundang cendawan penyebab penyakit.

Cara mengatasinya tidak harus menggunakan insektisida. Akan tetapi cukup dengan merendam pot dalam air dan menciptakan lingkungan yang bersih di rak tempat menaruh pot. Cara demikian ini akan membuat jera semut untuk tidak bersarang di dalam atau di bawah pot lagi. Cara lainnya yaitu dengan cara menggantung pot.

3

Belalang. Ada beberapa jenis belalang kecil yang rupanya suka daun dan pucuk anggrek. Daya rusak belalang cukup besar oleh karena belalang bisa dengan mudah berpindah tempat dengan cepat dari tanaman yang satu ke tanaman yang lain.

Pinggiran daun rusak dengan luka bergerigi tidak beraturan. Perlu pengamatan yang teliti sebab ada jenis belalang yang sangat kecil yang tidak segera kelihatan dengan pengamatan sepintas.

Kalau jumlahnya cukup banyak, segera semprotkan insektisida yang bersifat racun kontak atau yang sistemik. Kalau sedikit cukup dipencet dengan tangan saja.

4

Trips. Ukuran hama ini sangat kecil sekali (1 - 1,5 mm), abu-abu atau coklat. Mempunyai 3 pasang kaki dengan tubuh ramping.

Suka menempel pada buku-buku batang di daun muda. Menimbulkan bercak abu-abu di permukaan daun. Hama ini juga senang merusak bunga hingga bentuk bunga tak menarik lagi.

Kehadirannya sulit diketahui. Karena itu agar aman, lebih baik secara periodik pot anggrek disemprot dengan menggunakan insektisida. Paling tidak sebulan sekali.

5

Kutu babi. Bertubuh gemuk dan bulat. Suka menyerang akar dan bersembunyi di dalam pot.

Kerusakan yang ditimbulkannya seperti halnya semut, tapi tidak menyerang tunas daun.

Perendaman pot sudah cukup berhasil mematikan dan mengusir kutu babi dari pot anggrek.

6

Keong. Cukup beragam jenis keong perusak anggrek, misalnya: Subulina octana (keong belicong), Inozonites sp yang menyukai anggrek Phalaenopsis, mereka bersembunyi di bawah pot. Achatina fulica (bekicot), Bradybaena similaris (keong semak), Filicaulis bleekeri (keong bugi/tak bercangkang), Parmarion pupilaris (keong ponok).

Merupakan sekumpulan hama sangat penting, karena daya rusaknya terhadap daun sangat besar. Mereka menyerang di waktu malam. Sementara siang hari bersembunyi di tempat gelap.

Dalam jumlah sedikit cukup diambil dan dibunuh. Tapi kalau banyak ya perlu dibasmi menggunakan pestisida. Atau dijebak dengan serbuk prusi.

7

Red spider. Serangga kecil berkaki 8 ini bergerak lamban berwarna merah kecoklatan. Menempel di permukaan bawah daun.

Bercak putih di bagian bawah daun, sedangkan permukaan atas menjadi kuning. Lama-kelamaan daun mati dan gugur.

Kalau masih sedikit, cukup diambil menggunakan pita perekat (celotape) lalu dibakar. Atau mengosok daun dengan kapas yang dicelup alkohol. Andaikata sudah merajalela, terpaksa gunakan insektisida yang mengandung bahan aktif diazinon, ataupun dicofol.

8

Kumbang. Bermacam-macam kumbang ada yang menyerang daun, bunga dan batang. Kumbang anggrek kuning menyerang bunga, kuncup bunga dan daun. Kumbang ini mempunyai kaki, mata dan antena berwarna hitam.

Bagian yang terserang akan berlubang-lubang. Khusus kumbang penggerek batang, kerusakannya berupa lubang di tengah batang, dan tidak nampak dari luar. Larvanya yang menetas dari telur, merudak daun anggrek.

Anggrek Dendrobium dan Vanda paling sering diserang kumbang kuning. Pembasmiannya menggunakan insektisida sistemik secara rutin. Bersihkan pot dari kepompong dan telur kumbang, dengan jalan memindahkannya ke pot yang baru dengan media tanam yang baru pula.

9

Ulat daun. Ada banyak macam ulat pemangsa daun, kuncup bunga, tunas daun, maupun bunga yang sudah mekar.

Kebanyakan berasal dari kupu ordo Lepidoptera. Daya rusak berbagai jenis ulat ini cukup besar dan perlu segera ditanggulangi.

Jumlah 2-5 ekor saja sebenarnya bisa membunuh dengan tangan. Tapi kalau anda takut atau jijik boleh saja menggunakan insektisida terutama yang bekerja secara sistemik. Pisahkan anggrek yang diserang ulat dengan yang masih sehat.

10

Kepik. Hewan kecil ini mirip kumbang, namun sayapnya lebih bulat dan tubuhnya gepeng. Tidak jarang terjadi ledakan hama sehingga cukup mengkhawatirkan.

Menghisap cairan pada daun anggrek. Menyebabkan bintik-bintik putih atau kuning. Kalau banyak jumlahnya, kumpulan bintik itu serupa bercak cukup lebar dan nampak jelas dipandang. Tanaman yang diserang lama-kelamaan akan gundul tak punya hijau daun lagi. Sebab daun menjadi mati.

Semprotkan insektisida yang sama seperti untuk membasmi serangga lainnya, seperti ulat, kumbang, ataupun trips.

11

Kutu tudung. Kutu tudun atau kutu perisai Furcapsis, kutu wol, dan kutu daun sering dijumpai dalam jumlah kecil menyerang daun anggrek. Kutu tudun berwarna cokelat (2,5-3 mm), puncak tudungnya berada di pinggir badan (punggung). Selain menempel daun, ia juga menyenangi pseudobulp, misalnya pada anggrek Oncidium. Juga pada mata tunas.

Daun yang diserang berubah menjadi kuning tidak sehat. Lantas menjadi cokelat dan akhirnya mati. Selain kutu tudung, kutu-kutu yang lainnya umumnya berwarna putih, yang serangannya meliputi akar gantung (aerial roots) sampai titik tumbuh.

Cara pembasmiannya sama dengan memberantas ulat, kumbang, ataupun trips.


2 Kumbang Gajah, Orchidophilus aterrimus (= Acythopeus) aterrimus Wat.

4 Kumbang Penggerek Akar Diaxenes phalaenopsidis Fish.

5 Kumbang Penggerek Oulema (= Lema) pectoralis Baly.

6 Kutu Perisai Parlatoria proteus Curt.

7 Pengorok Daun Gonophora xanthomela ( = Agonita spathoglottis).

9 Pemakan Daun Negeta chlorocrota Hps.

11 Ulat sikat anggrek Orgyia postica.

12 Kutu perisai putih Chionapsis gromini Gr.

13 Kutu Perisai Mytilapsis Sp.

15 Tungau Jingga Anggrek Pseudoleptus vandergooti (Oud).

16 Tungau Acarina Sp.

17 Thrips Anggrek Dichromothrips (= Eugniothrips) smithi (Zimm).

18 Kepik Anggrek Mertila malayensis Dist.

19 Kutu Daun Anggrek Cerataphis oxhidiarum (West).

22 Kumbang penggerek Xylosandrus morigerus Bldf.

No.

Hama

Biologi

Tanaman Inang

Gejala Serangan

1

Tungau Merah, Tennuipalvus orchidarum Parf., Ordo : Acarina, Famili : Tetranychidae

Tungau berwarna merah, berukuran sangat kecil yaitu 0,2 mm sehingga sukar untuk dilihat dengan mata telanjang. Tungau dapat dijumpai pada daun, pelepah daun dan bagian-bagian tersembunyi lainnya. Telur tungau berwarna merah, bulat dan diletakkan membujur pada permukaan atas daun.

Jenis-jenis yang dapat diserang hama ini adalah Phalaenopsis sp., Dendrobium sp., Orchidium sp., Vanda sp. dan Granatophyllium sp., kapas, kacang-kacangan, jeruk, dan gulma terutama golongan dikotil. Menyerang daun Phalaenopsis hingga menjadi kerdil.

Tungau sangat cepat berkembang biak dan dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan secara mendadak. Bagian tanaman yang diserang antara lain tangkai daun dan bunga. Tangkai yang diserang akan berwarna seperti perunggu. Pada permukaan atas daun terdapat titik/bercak berwarna kuning atau coklat, kemudian meluas dan seluruh daun menjadi kuning.
Pada permukaan bawah berwarna putih perak dan bagian atas berwarna kuning semu. Pada tingkat serangan lanjut daun akan berbercak coklat dan berubah menjadi hitam kemudian gugur. Pada daun Phalaenopsis sp. mula-mula berwarna putih keperakan kemudian menjadi kuning. Hama ini dapat berjangkit baik pada musim hujan maupun musim kemarau, namun umumnya serangan meningkat pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan serangan berkurang karena terbawa air. Kerusakan dapat terjadi mulai dari pembibitan.

2

Kumbang Gajah, Orchidophilus aterrimus (= Acythopeus) aterrimus Wat., Ordo : Coleoptera, Famili : Curculionidae.

Kumbang berwarna hitam kotor/tidak mengkilap dengan ukuran bervariasi 3,5-7 mm termasuk moncong. Kumbang bertelur pada daun atau lubang pada batang tanaman. Larva menggerek ke jaringan batang atau masuk ke pucuk/kuncup dan tangkai sampai menjadi pupa.
Fase larva (ulat), pupa (kepompong) sampai dewasa (kumbang) berlangsung dalam pseudobulb. Larva yang baru menetas menggerek pseudobulb, makan dan tinggal di dalam pseudobulb tersebut. Pupa terbungkus oleh sisa makanan dan terletak di rongga bekas gerekan di dalam pseudobulb.

Jenis anggrek yang diserang adalah anggrek epifit antara lain Arachnis sp., Cattleya sp., Coelogyne sp., Cypripedium sp., Dendrobium sp., Cymbidium sp., Paphiopedilum sp., Phalaenopsis sp., Renanthera sp., dan Vanda sp.

Kumbang bertelur pada daun atau lubang batang tanaman. Kerusakan terjadi karena larvanya menggerek daun dan memakan jaringan di bagian dalam batang sehingga mengakibatkan aliran air dan hara dari akar terputus serta daun-daun menjadi kuning dan layu. Kerusakan pada daun menyebabkan daun berlubang-lubang. Larva juga menggerek batang umbi, pucuk dan batang untuk membentuk kepompong, sedangkan kumbang dewasa memakan epdermis/permukaan daun muda, jaringan/tangkai bunga dan pucuk/kuntum sehingga dapat mengakibatkan kematian bagian tanaman yang dirusak. Serangan pada titik tumbuh dapat mematikan tanaman. Pada pembibitan Phalaenopsis sp. dapat terserang berat hama ini. Seangan kumbang gajah dapat terjadi sepanjang tahun, tetapi paling banyak terjadi pada musim hujan, terutama pada awal musim hujan tiba.

3

Kumbang Penggerek Omobaris calanthes Mshl., Ordo : Colepotera, Famili : Curculionidae.

Pertumbuhan larva dapat mencapai panjang 5 mm.

Jenis anggrek yang diserang terutama adalah anggrek tanah terutama jenis Calanthe sp. dan Phajus sp.

Berbeda dengan kumbang gajah, larva kumbang ini menggerek masuk ke jaringan akar/umbi, pucuk dan tangkai bunga sehingga dinding gerekan menjadi hitam. Sedangkan kumbang dapat dijumpai di bagian tengah tanaman di antara daun bawah. Serangga membuat sejumlah lubang, seringkali berbaris di daun dan juga tunas utama yang masih terlipat yang kemudian dapat patah dan mati. Pada tahap awal seringkali merusak akar tanaman dan pada saat bunga masih kuncup. Serangan berat menyebabkan tanaman terlihat merana dan dapat mematikan tanaman anggrek secara keseluruhan.

4

Kumbang Penggerek Akar Diaxenes phalaenopsidis Fish., Ordo : Coleoptera, Famili : Cerambycidae.

Telur berwarna hijau terang dengan panjang 2,4 mm dan diletakkan di bawah kutikula akar. Larva berwarna kuning dan membentuk pupa dalam suatu kokon yang berserabut/berserat padat. Kumbang dapat hidup sampai 3 bulan dan daur hidup mencapai 50-60 hari. Pada siang hari kumbang ini bersembunyi dan pada malam hari memakan daun bagian atas dan meninggalkan potongan/bekas gerekan yang tidak beraturan di permukaan.

Larva maupun kumbang ini dapat menyerang tanaman anggrek Renanthera sp., Vanda sp., Dendrobium sdp., Oncidium sp. dan lebih khusus anggrek Phalaenopsis sp.

Larva menggerek akar sehingga akar mengering dan dapat mengakibatkan kematian. Larva juga menyerang bunga. Kerusakan yang diakibatkan oleh hama ini akan sangat berat jika tidak segera dikendalikan.

5

Kumbang Penggerek Oulema (= Lema) pectoralis Baly., Ordo : Coleoptera, Famili : Chrysomelidae.

Kumbang berwarna hijau kekuningan. Tubuhnya diselubungi busa yang berwarna hijau tua. Larvanya membuat lubang pada daun, akar, kuntum bunga dan bunganya. Kumbang mempunyai tipe criocerin sepanjang punggung dan pronotum yang sempit. Serangga dari famili ini berasosiasi dengan rumput-rumputan dan monokotiledon lain. Larva yang semula berwarna abu-abu, dengan meningkatnya umur, akan berubah menjadi kuning. Tubuh larva senantiasa tertutup oleh kotorannya sendiri. Telur diletakkan terpisah-pisah pada bunga dan petiola. Telur berwarna kuning kehijauan dengan panjang 1,25 mm. Larva yang baru menetas membawa kulit telur di punggungnya. Daur hidup mencapai 30 hari.

Arachnis sp., Grammatophyllum sp., Vanda sp., Phalaenopsis sp., Calanthes sp. dan kadang-kadang menyerang Dendrobium sp.

Larva membuat lubang pada daun, akar, kuntum bunga dan bunga. Serangga dewasa juga dapat memakan daun.

6

Kutu Perisai Parlatoria proteus Curt., Ordo : Hemiptera, Famili : Diaspididae.

Kutu mempunyai perisai berwarna coklat merah berukuran + 1,5 mm, kutu dewasa berwarna gelap berbentuk bulat, pipih, melekat pada bagian tanaman terserang. Telurnya diletakkan di bawah perisai/tempurung, sehingga tidak terlihat dari atas. Larva tidak bertungkai, berbentuk bulat. Kutu dewasa betina tidak bersayap sedangkan yang jantan bersayap.

Kutu ini tersebar luas dan terutama dijumpai pada tanaman anggrek Dendrobium sp., Renanthera sp., Vanda sp. dan jenis-jenis anggrek tanah, dan palem.

Tanaman yang terserang berwarna kuning merana, kadang-kadang daun berguguran.

7

Pengorok Daun Gonophora xanthomela ( = Agonita spathoglottis), Ordo : Coleoptera, Famili : Chrysomelidae.

Kumbang berukuran 6 mm, terdapat tanda hitam dan oranye. Telur diletakkan pada permukaan bawah daun dan ditutupi kotoran.

Hama ini menyerang jenis-jenis anggrek Phalaenopsis amabilis, Vanda tricolor, V. coerulea, Arundina sp. dan Aspathoglottis sp.

Larva menggerek bagian dalam daun dan meninggalkan bagian epidermis sehingga daun tampak transparan. Serangan berat terjadi pada musim hujan.

8

Ulat Bunga Chliaria othona, Ordo : Lepidoptera, Famili : Lycaenidae.

Ulat berbentuk pipih. Larva yang baru menetas dari telur masuk ke dalam pucuk sampai bunga. Stadia pupa terjadi di daun dan umbi-umbian dalam lapisan anyaman dan pupa berbalut lapisan sutera.

Ulat ini menyerang jenis-jenis anggrek Dendrobium sp., Phalaenopsis sp., Arundina sp., Phajus sp.

Ulat memakan bunga atau pucuk anggrek. Setelah menetas dari telur segera masuk dan merusak ke dalam pucuk sampai ke bunga.

9

Pemakan Daun Negeta chlorocrota Hps., Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctuidae.

Ulat merupakan semi penggulung daun anggrek. Ulat instar lanjut berwarna hijau pudar dengan garis gelap membujur dan empat tanda di punggung. Seta (bulu) panjang tumbuh dari kecil dan hitam. Panang larva + 35 mm. Ngengat muda tidak terbang sangat jauh. Telur berduri dan dijumpai di daun, pucuk dan bunga. Di Bogor siklus hidup mencapai 38 hari.

Kerusakan paling banyak pada Dendrobium sp., dan Arachnis sp.. dan serangga juga dijumpai pada Phalaenopsis sp. dan aneka anggrek liar.

Larva memakan daun muda dan meninggalkan potongan-potongan daun yang putih dan transparan. Kerusakan disebabkan oleh instar selanjutnya pada daun yang lebih tua. Pucuk-pucuk muda juga diserang. Pada populasi tinggi larva menggerogoti daun, potongan oval dari daun yang tertinggal di atas dan digunakan untuk membentuk tempat pupa.

10

Kutu Putih Pseudococcus sp., Ordo : Hemiptera, Famili : Pseudococcidae.

Seluruh tubuh tertutup oleh lilin termasuk tonjolan pendek yang terdapat pada tubuhnya. Kutu berwarna coklat kemerahan, panjang 2 mm, dan memproduksi embun madu sehingga menarik bagi semut untuk berkumpul. Kutu memperbanyak diri melalui atau tanpa perkawinan (partenogenesis). Perkembangan satu generasi memerlukan waktu selama 36 hari.

Hama ini tersebar luas dan merupakan hama penting pada tanaman buah-buahan dan tanaman hias.

Pada Dendrobium sp., kutu menyerang ujung akar, bagian daun sebelah bawah dan batang. Bagian tanaman terserang akan berwarna kuning dan akhirnya mati karena hama ini mengisap cairan sel.
Pada Phalaenopsis sp., kutu menyerang ketiak daun di sekitar titik tumbuhnya, sehingga menyebabkan tanaman mati.

11

Ulat sikat anggrek Orgyia postica.

Kepala merah dan bulu-bulu kuning. Bulu di punggung ada 4 kelompok seperti sikat.

Anggrek Dendrobium.

Memakan semua bagian tanaman khususnya anggrek Dendrobium.

12

Kutu perisai putih Chionapsis gromini Gr.

Tubuh putih, bulat berukuran 2 mm.

Anggrek Dendrobium.

Menghisap cairan tanaman. Daun menjadi berbintik kuning, lalu menjadi coklat dan mati. Senang pada tanaman Dendrobium.

13

Kutu Perisai Mytilapsis Sp.

Berwarna coklat kuning berukuran 0,3 mm.

Anggrek Dendrobium.

Memakan daun terutama Dendrobium.

14

Tungau Polyphagotarsonemus latus Banks.

Berukuran 0,25 mm dan berwarna kuning kehijauan.

Anggrek dan tanaman hias.

Daun menjadi coklat dan keriting, jaringan mati.

15

Tungau Jingga Anggrek Pseudoleptus vandergooti (Oud), Ordo : Acarina, Famili : Tertranychidae.

Tungau berukuran 0,3 mm, hidup berkoloni pada daun-daun yang mati.

Anggrek Dendrobium sp. sangat peka terhadap serangan tungau jingga.

Serangan hama ini mengakibatkan daun dan jaringan batang berubah warna.

16

Tungau Acarina Sp.

Berukuran sangat kecil. Berkaki delapan dan tubuh berwarna merah.

Tanaman anggrek.

Menggerek ketiak dan pelepah daun, jaringan menjadi hitam dan mati.

17

Thrips Anggrek Dichromothrips (= Eugniothrips) smithi (Zimm), Ordo : Thysanoptera, Sub Ordo : Terebrantia.

Hama ini sangat kecil, dan berwarna abu-abu, ada juga yang berwarna kecoklatan. Panjangnya kira-kira 1-1½ mm. Trips mempunyai tiga pasang kaki, dan berbadan ramping.

Thrips anggrek dari P. Jawa ditemukan pula di Taiwan. Thrips mengakibatkan kerusakan serius pada pembibitan anggrek Arachnis sp., Cattleya sp., Dendrobium sp., Renanthera sp., dan Vanda sp.

Serangan hama ini mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat, bunga berguguran, daun berubah bentuk dan berwarna keperakan. Pada musim kemarau serangan thrips dapat mengakibatkan penurunan produksi bunga.

18

Kepik Anggrek Mertila malayensis Dist., Ordo : Hemiptera, Famili : Miridae.

Kepik berwarna merah kehitaman. Telur diletakkan di daun, dan nimfa yang baru menetas berwarna merah mirip dengan tungau. Serangga biasanya hidup berkelompok, jika diganggu maka akan melarikan diri dengan cepat. Di Salatiga siklus hidup sekitar 4 minggu, dan serangga dewasa dapat hidup selama 2 bulan.

Kepik ini memiliki daerah penyebaran meliputi wilayah Asia Selatan dan Timur. Kepik dapat ditemukan pada anggrek Phalaenopsis sp., Bulbophyllum sp., Renanthera sp., Vanda sp.

Serangan kepik menimbulkan gejala bintik-bintik putih kuning pada permukaan atas dan bawah daun anggrek. Kadang-kadang titik-titik tersebut sangat rapat sehingga merupakan bercak putih. Tanaman yang terserang lama-lama menjadi gundul.

19

Kutu Daun Anggrek Cerataphis oxhidiarum (West), Ordo : Homoptera, Famili : Aphidoidea.

Spesies kutu daun ini berwarna coklat gelap sampai hitam. Pada waktu masih muda, serangga berwarna hijau. Penyebaran meliputi di daerah tropis.

Kutu ini tersebar luas dan terutama dijumpai pada tanaman anggrek Dendrobium sp., Renanthera sp., Vanda sp. dan jenis-jenis anggrek tanah

Kutu daun menempel pada daun, dan menyebabkan daun yang terserang berubah menjadi kuning, kemudian coklat, akhirnya mati.

20

Kutu Tempurung Aspidiotus sp., Ordo : Homoptera, Famili : Diaspididae.

Serangga dewasa berwarna merah coklat gelap berukuran panjang 1,5 mm. Kutu betina dapat menghasilkan telur 20-30 butir. Telur diletakkan di dalam perisai di bawah badannya. Nimfa yang baru menetas akan ke luar dari perisai, berkelompok di permukaan bawah daun. Periode telur sampai dewasa mencapai 1,5-2 bulan. Aktivitas puncak terjadi pada musim kering.

Di daerah Bogor kutu tempurung ditemukan pada anggrek Renanthera sp. dan Vanda sp., kelapa, kelapa sawit, pisang, mangga, alpukat, jambu biji, kakao, karet, keluwih, jahe dan teh.

Serangga ini mengisap cairan daun di bagian permukaan bawah sehingga meninggalkan bercak-bercak dan menyebabkan daun berwarna kuning kecoklatan. Kutu mengisap cairan daun, sehingga makin lama cairan daun habis dan jaringan di sekelilingnya terjadi nekrosis. Pada serangan berat seluruh daun menjadi kering dan kemudian rontok.

21

Jenis serangga Oligotoma saundersi Westw.

Berukuran panjang 8-10 mm. Tubuh berwarna coklat dan kepala kekuningan.

Tanaman anggrek.

Menyerang akar dan angggrek menjadi tidak berbunga.

22

Kumbang penggerek Xylosandrus morigerus Bldf.

Berukuran 1,5 mm.

Tanaman kopi.

Memakan batang, akar, dan umbi semua.

23

Semut.

Berwarna hitam.

Anggrek dan tanaman hias, serta tanaman buah.

Menggigit sel-sel jaringan yang muda. Luka gigitan mengandung serangan jamur.

24

Siput Kecil Lamellaxis (= Opeas) gracilis (Hutt.) dan Subulina octona Brug., Phyllum : Mollusca.

Tempurung hama panjangnya 11 mm dan berwarna kuning terang. Kedua spesies hama ini di alam sering bercampur.

Di daerah Deli (Sumatera) sering ditemukan pada bedengan pembibitan tembakau, dan di daerah lain di Indonesia ditemukan menyerang sayuran di rumah kaca.

Siput ini tinggal pada tanaman anggrek di antara media tumbuh dalam pot dan menyerang bagian akar. Malam hari siput naik ke permukaan pot dan menyerang bagian daun. Serangan berat terjadi pada musim hujan.

25

Siput Telanjang Vaginula bleekeri atau Filicaulis bleekeri, Phyllum : Mollusca.

Bentuk siput seperti lintah, berwarna coklat keabuan, pada punggungnya terdapat bercak-bercak coklat tua yang tidak teratur dan ada sepasang garis memanang, panjang tubuh + 5 cm.

Selain menyerang anggrek, juga merusak pesemaian sayuran seperti kol, sawi, tomat dan tembakau.

Gejala serangan mirip Parmarion. Siput menyerang tanaman pada waktu malam hari. Bagian tanaman yang diserang adalah daun dan pucuk-pucuknya.

26

Siput Setengah Telanjang (Slug) Parmarion pupillaris, Phyllum : Mollusca,

Siput tidak memiliki cangkok, berukuran panjang 5 cm, berwarna coklat kekuningan atau coklat keabuan. Rumah pada punggungnya kerdil dan sedikit menonjol. Siput tidak beruas, badannya lunak, bisa mengeluarkan lendir, berkembang biak secara hermaprodit namun sering juga terliha mereka mengadakan perkawinan dengan sesama. Siput menyukai kelembaban. Telur diletakkan pada tempat-tempat yang lembab. Siput biasanya pada waktu siang hari bersembunyi di tempat yang teduh dan aktif mencari makan pada malam hari. Alat untuk makan berbentuk seperti lidah yang kasar seperti parut yang disebut radula.

Bersifat polifag, selain menyerang anggrek juga pada kol, sawi, tomat, kentang, tembakau, karet dan ubi jalar.

Siput memakan daun dan membuat lubang-lubang tidak beraturan. Seringkali ditandai dengan adanya bekas lendir sedikit mengkilat dan kotoran. Akar dan tunas anakan juga diserang. Seringkali merusak pesemaian atau tanaman yang baru saja tumbuh. Siput juga makan bahan organik yang telah membusuk atauun tanaman yang masih hidup.

27

Bekicot Achatina fulica atau A. variegata, Phyllum : Mollusca.

Bekicot mempunyai cangkok (rumah), dengan ukuran panjang + 10-13 cm. Pada waktu siang hari bekicot ini sering istirahat pada batang pepaya, pisang dan dinding rumah. Pada waktu malam hari mencari makanan. Siang hari mencari tempat perlindungan di lubang tanah, kaleng atau bambu. Bila diganggu mereka akan menarik kepalanya ke dalam rumahnya. Kadang-kadang dapat mengeluarkan suara. Pada waktu musim kemarau yang panjang dan udara panas, kepala dan seluruh badan dimasukkan dalam rumah dan lubangnya ditutup dengan suatu lapisan membran yang tebal hingga ia dapat bertahan hidup selama musim kemarau + 6 bulan. Bila musim hujan tiba dalam beberapa jam mereka dapat segera mengakhiri masa istirahatnya dan mulai mencari makanan. Bekicot yang baru saja menetas bisa tahan tidak makan selama 1 bulan. Bekicot yang besar bisa tahan terendam air tawar selama 12 jam, tetapi kalau air mengandung garam bekicot akan mati dengan pelan-pelan. Telurnya berwarna kuning dengan diameter + 5 mm, biasanya terdapat dalam kelompok telur yang jumlahnya 100-500 butir gumpalan telur yang diameternya bisa sampai + 5 cm. Biasanya terletak di bawah batu, tanaman atau dalam tanah gembur. Telur ini akan menetas dalam 10-14 hari.

Bekicot selain merusak tanaman anggrek, juga tanaman bunga bakung, bunga dahlia, pepaya, tomat.

Bekicot banyak merusak seluruh bagian tanaman dengan memakan daun dan bagian tanaman lain. Selain itu juga makan tanaman yang telah mati.


NO

NAMA PENYAKIT PENYEBAB

GEJALA

PENANGGULANGAN

1

Penyakit Buluk. Cendawan Penicillium sp. Sering terdapat di dalam media "kultur" (botol persemaian biji anggrek). Spora cendawan ini terbawa oleh biji anggrek atau tutup botol yang tidak steril.

Cendawan lembut, putih seperti kapas. Kemudian warnanya menghijau. Kalau cendawan ini terlalu banyak, biji anggrek tidak mampu berkecambah dan persemaian dalam botol akan gagal. Kecambah yang telah tumbuh kalau diserang cendawan akan layu dan mati.

Pada awal serangan : Media agar dan cendawan dikeluarkan dari botol. Lalu botol diisi larutan fungisida misalnya Benlate, selama beberapa menit. Fungisida dikeluarkan dan botol ditutup lagi. Semuanya dikerjakan dalam keadaan steril. Kalau kecambah anggrek terlanjur besar segera dikeluarkan dari botol dan dicuci bersih dalam larutan fungisida. Kecambah ini lantas ditanam dalam pot bersama (kompot).

2

Penyakit Rebah Kecambah. Juga penyakit anggrek semasa masih dalam persemaian. Penyebabnya cendawan Pythium ultimum atau Rhizoctonia solani. Penyebaran penyakit ini melalui air.

Semula berupa bercak kecil, bening pada permukaan daun. Lalu melebar, menulari ke atas sampai titik tumbuh pada tunas serta ke bawah hingga ke ujung akar. Kecambah anggrek akan membusuk dan mati.

Bibit yang sakit sebaiknya segera dibuang, kalau perlu dibakar biar musnah. Pot dan kumpulan kecambah dikeringkan dan disemprot fungisida.

3

Penyakit Bercak Cokelat. Penyakit pada persemaian anggrek, oleh bakteri Pseudomonas cattleya. Kecambah jenis Phalaenopsis sangat peka terhadap bakteri ini, terutama pada cuaca sangat lembab. Infeksi melalui daun basah, atau di bekas luka pada daun. Sentuhan daun yang sakit pada daun yang sehat sudah cukup untuk menularkan bakteri ini.

Bercak kecil, benin pada pucuk daun. Dalam beberapa hari saja sudah meluas ke seluruh kompot. Daun kecambah anggrek menjadi lunak dan mati. Penyakit ini sangat ganas, karena mematikan dan sangat cepat menular.

Sangat sulit membasmi bercak cokelat. Pada awal serangan, daun yang sakit segera dipotong dan dibakar. Gunakan pisau / guntin steril. Pada serangan yang parah, tidak ada jalan lain kecuali memusnahkan seluruh kecambah anggrek.

4

Penyakit Bercak Hitam. Pada tanaman anggrek yang sudah dewasa. Oleh cendawan Phytoptora cactorum dan Phytium ultimum. Zoosporanya mudah sekali menular terbawa air. Juga melalui alat-alat (gunting, dsb) yang tidak steril.

Timbulnya warna cokelat kehitaman pada bagian tanaman yang terserang. Mulai dari daun, ke atas sampai tunas. Dan ke bawah hingga ke ujung akar. Tanaman terlambat tumbuh, kerdil. Kadang mengakibatkan kematian.

Bagian tanaman yang sakit segera dipotong menggunakan gunting / pisau steril, lalu dibuang. Atau semprotkan fungisida. Sebaiknya alat pemotong tersebut dicuci dalam larutan alkohol 70 % dan dibakar dulu.

5

Penyakit Busuk Akar. Oleh cendawan Rhizoctonia solani.

Leher akar membusuk, seringkali mencapai rhizoma dan umbi batang. Daun dan umbi batang menguning, berkeriput, tipis dan bengkok. Tanaman kerdil dan tidak sehat.

Semua bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang. Bekasnya disemprot dengan fungisida, misalnya Benlate.

6

Penyakit Layu. Oleh cendawan Fusarium oxysporium.

Mirip pada serangan Rhizoctonia, namun pada rhizoma terdapat garis-garis atau lingkaran berwarna ungu. Pada serangan berat, seluruh rhizoma menjadi ungu, diikuti pembusukan pada umbi batang. Tanaman sangat tidak sehat.

Bagian yang terserang dibuang lalu disemprotkan Benlate. Tanaman segera dipindahkan ke media tanam baru, yan masih sear dan bersih. Usahakan terdapat aliran udara yang lancar pada media tanam.

7

Penyakit Busuk. Oleh cendawan Sclerotium rolfsii.

Terdapat bintil-bintil kecil berwarna cokelat pada bagian tanaman yang kena penyakit.

Bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang. Media tanam dan seluruh pot didesinfektans dengan larutan Formalin 4 %, ataupun fungisida Natriphene 0,5 % selama 1 jam.

8

Penyakit Bercak Cokelat. Oleh bakteri Pseudomonas cattleya.

Bercak cokelat pada permukaan daun, lalu menyebar ke seluruh bagian tanaman.

Membuang semua bagian yang sakit, lalu semprotkan fungisida / antibiotika Streptomycin atau Physan 20.

9

Penyakit Busuk Lunak. Oleh bakteri Erwinia caratovora.

Daun dan akar membusuk serta berbau. Penyakit ini cepat sekali meluas. Namun khusus pada rhizoma dan umbi batang, penyebarannya agak lambat.

Peralatan kebun mesti suci hama. Bagian yang sakit segera dipotong dan dibuang. Semprotkan Physan 20 sedang pot tanaman disemprot dengan formalin 4 %.

10

Penyakit Bercak Bercincin. Disebabkan oleh virus TMV-O (Tobacco Mozaic Virus-Odontoglossum)

Timbul lingkaran atau garis-garis khlorotik (kekuningan) pada permukaan daun.

Hanya dengan jalan pencegahan, yakni dengan membuang bagian tanaman yang sakit, serta mensterilkan semua alat-alat potong.

11

Penyakit Mozaic Cymbidium. Yang disebabkan oleh virus Mozaic Cymbidium.

Semula berupa bercak khlorotik (kekuningan) kemudian muncul nekrosa (jaringan mati) berbintik, bergaris atau lingkaran. Khusus pada jenis Cattleya, bercak tadi berwarna cokelat atau hitam cekung. Kadang ada gejala kematian jaringan di tengah daun yang dilingkari jaringan normal (sehat). Daun tua banyak sekali menunjukkan adanya bintik-bintik jaringan yang mati.

Hanya bersifat pencegahan, yakni membuang bagian tanaman yang sakit, serta mensterilkan segala alat yang dipakai.

12

Penyakit Busuk Hitam. Disebabkan oleh cendawan Phytophthora omnivora. Sesudah hujan air menggenangi pucuk daun yang terbuka atau pada baian dekat akar anggrek Phalaenopsis. Anggrek Cattleya juga peka terhadap penyakit ini.

Muncul warna kehitaman pada pangkal daun, lalu melunak dan busuk. Akhirnya daun terkulai mati.

Semprotkan fungisida seperti Baycor, Dithane M-45, Benlate, Ferbam, Physan, Truban, atau Banrot. Untuk yang berbentuk tepung, gunakan dosis 2 ram dilarutkan dalam 2 liter air.




No

Penyakit

Morfologi/Epidemiologi

Tanaman Inang

Gejala Serangan

1

Busuk Hitam Phytopthora spp.

Cendawan membentuk sporangium, mudah terlepas, bulat telur atau jorong, pangkalnya membulat, mempunyai tangkai pendek dan hialin. Spora Phytophthora dapat dipencarkan oleh angin, dan percikan air. Akar rimpang dapat dapat terinfeksi karena patogen yang terbawa oleh pisau yang dipakai untuk memotong (memisahkan tanaman). Penyakit juga berkembang oleh kelembaban yang tinggi, karena air membantu pembentukan, pemencaran, dan perkecambahan spora.

Penyakit ini terutama dijumpai pada anggrek Cattleya sp., Phalaenopsis sp., Dendrobium sp., Epidendrum sp. dan Oncidium sp.

Infeksinya tampak dengan adanya noda-noda hitam yang menjalar dari bagian tengah tanaman hingga ke daun. Dalam waktu relatif singkat seluruh daun sudah berjatuhan. Cendawan ini menyerang pucuk tanaman dan titik tumbuh. Bagian pangkal pucuk daun terlihat basah dan bila ditarik mudah terlepas. Bila menyerang titik tumbuh, pertumbuhan akan terhenti. Penyebaran penyakit ini sangat cepat bila keadaan lingkungan lembab.
Pada Cattleya penyakit dapat timbul pada daun, umbi semu, akar rimpang dan kuncup bunga. Penyakit ini juga dapat timbul pada pesemaian sebagai penyakit busuk rebah. Pada daun terjadi bercak besar, berwarna ungu tua, coklat keunguan, atau hitam. Bercak dikelilingi halo kekuningan. Dari daun penyakit berkembang ke umbi semu, akar rimpang, bahkan mungkin ke seluruh tanaman. Jika penyakit mula-mula timbul pada umbi semu, maka umbi ini akan menjadi hitam ungu, dan semua yang terletak di atasnya akan layu. Seringkali daun menjadi rapuh dengan goyangan sedikit saja daun akan terlepas sedikit di atas umbi semu. Infeksi yang terjadi pada permukaan tanah dapat menyebabkan busuk kaki.
Pada Vanda, mula-mula pada pangkal daun terjadi bercak hitam kecoklatan tidak teratur, dengan cepat meluas ke seluruh permukaan daun dan pada daun-daun sekitarnya. Pada umumnya penyakit timbul di daerah pucuk tanaman. Pada bagian ini daun-daun berwarna hitam coklat kebasah-basahan dan mudah sekali gugur. Kadang-kadang penyakit juga timbul pada batang dan daerah perakaran.

2

Antraknosa. Colletotrichum gloeosporioides (Penz.) Sacc. (Stadium Sempurna : Glomerella cingulata)

C. gloeosporioides berbentuk aservulus pada bagian yang mati (nekrosis) yang berbatas tegas, biasanya berseta, kadang-kadang berseta sangat jarang atau tidak sama sekali. Aservulus berbentuk bulat, memanjang atau tidak teratur, garis tengahnya dapat mencapai 500 µm. Seta mempunyai panjang yang bervariasi, jarang lebih dari 200 µm, dengan lebar 4-8 µm, bersekat 1-4, berwarna coklat, pangkalnya agak membengkak, mengecil ke ujung, pada ujungnya kadang-kadang berbentuk konidium. Konidium berbentuk tabung, ujungnya tumpul, pangkalnya sempit terpancung, hialin, tidak bersekat, berinti 1,9-24 x 3,6 µm. Konidiofor berbentuk tabung, tidak bersekat, hialin atau coklat pucat.
C. gloeosporioides tersebar luas, sebagai parasit lemah pada bermacam-macam tumbuhan inang, bahkan ada yang hanya hidup sebagai saprofit. Cendawan dapat mempertahankan diri dengan hidup secara saprofitis pada bermacam-macam sisa tanaman sakit. Pada cuaca menguntungkan jamur membentuk konidium. Karena terbentuk dalam massa yang lekat, konidium dipencarkan oleh percikan air, dan mungkin oleh serangga. Pembentukan konidium dibentuk oleh cuaca yang lembab, sedang pemencaran konidium dibantu oleh percikan air hujan maupun siraman.

Penyakit ini dijumpai pada anggrek jenis Dendrobium sp., Arachnis sp., Ascocendo sp., Phalaenopsis sp., Vanda sp. dan Oncidium sp.

Pada daun atau umbi semu mula-mula timbul bercak bulat, mengendap, berwarna kuning atau hijau muda. Akhirnya bercak menjadi coklat dan mempunyai bintik-bintik hitam yang terdiri dari tubuh buah (aservulus) cendawan. Pada umumnya bintik-bintik ini teratur pada lingkaran-lingkaran yang terpusat. Dalam keadaan yang lembab tubuh buah mengeluarkan massa spora (konidium) yang berwarna merah jambu atau jingga. Daun yang terserang akan gugur akhirnya umbi akan gundul.
Pada bunga, penyakit menyebabkan terjadinya bercak-bercak coklat kecil yang dapat membesar dan bersatu sehingga dapat meliputi seluruh bunga.
Cendawan dapat mempertahankan diri dengan hidup secara saprofitik pada sisa tanaman sakit. Pada cuaca menguntungkan (lembab), cendawan membentuk konidium yang apabila terbentuk dalam massa yang lekat, konidium dipencarkan oleh percikan air hujan/air siraman, mungkin juga oleh serangga.
Cendawan adalah parasit lemah, yang hanya dapat mengadakan infeksi pada tanaman yang keadaannya lemah, terutama melalui luka-luka, termasuk luka karena terbakar matahari. Terjadinya penyakit juga dibantu oleh pemberian pupuk nitrogen yang terlalu banyak.

3

Layu Sklerotium rolfsii Sacc. (Stadium Sempurna : Corticium rolfsii Curzi)

S. rolfsii adalah cendawan yang kosmopolit, dapat menyerang bermacam-macam tumbuhan, terutama yang masih muda. Cendawan itu mempunyai miselium yang terdiri dari benang-benang berwarna putih, tersusun seperti bulu atau kipas. Cendawan tidak membentuk spora. Untuk pemencaran dan mempertahankan diri cendawan membentuk sejumlah sklerotium yang semula berwarna putih kelak menjadi coklat dengan garis tengah kurang lebih 1 mm. Butir-butir ini mudah sekali terlepas dan terangkut oleh air.
Sklerotium mempunyai kulit yang kuat sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Di dalam tanah sklerotium dapat bertahan selama 6-7 tahun. Dalam cuaca yang kering sklerotium akan mengeriput, tetapi justru akan berkecambah dengan cepat jika kembali berada dalam lingkungan yang lembab.

Selain menyerang anggrek, penyakit ini diketahui menyerang pada tanaman pertanian lainnya. Pada anggrek terutama menyerang jenis-jenis terestrial, seperti Vanda sp., Arachnis sp. dan sebagainya.

Tanaman yang terserang menguning dan layu. Infeksi terjadi pada bagian-bagian yang dekat dengan tanah. Bagian ini membusuk, dan pada permukaannya terdapat miselium cendawan berwarna putih, teratur seperti bulu. Miselium ini membentuk sklerotium, yang semula berwarna putih, kelak berkembang menjadi butir-butir berwarna coklat yang mirip dengan biji sawi.
Pada Phalaenopsis penyakit menyebabkan busuk akar dan pangkal daun. Jaringan menjadi berwarna kuning krem, berair, yang segera berubah menjadi coklat lunak karena adanya bakteri dan cendawan tanah.
Sklerotium bentuknya hampir bulat dengan pangkal yang agak datar, mempunyai kulit luar, kulit dalam dan teras.
Di daerah tropis S. rolfsii tidak membentuk spora. Cendawan dapat bertahan lama dengan hidup secara saprofitik, dan dalam bentuk sklerotium yang tahan terhadap keadaan yang kurang baik.
S. rolfsii umumnya terdapat dalam tanah. Cendawan terutama terpencar bersama-sama dengan tanah atau bahan organik pembawanya. Sklerotium dapat terpencar karena terbawa oleh air yang mengalir.
S. rolfsii terutama berkembang dalam cuaca yang lembab. Cendawan dapat menginfeksi tanaman anggrek melalui luka ataupun tidak, bila melalui luka infeksi akan berlangsung lebih cepat. Di Indonesia Oncidium sp. dan Phalaenopsis sp. sangat rentan terhadap S. rolfsii, Cattleya sp. agak tahan, sedangkan Dendrobium sp. sangat tahan.

4

Layu Fusarium oxysporum

Patogen dapat bertahan secara alami di dalam media tumbuh dan pada akar-akar tanaman sakit. Apabila terdapat tanaman peka, melalui akar yang luka dapat segera menimbukan infeksi. Penyakit ini mudah menular melalui benih, dan alat pertanian yang dipakai.

Penyakit layu Fusarium dapat dijumpai pada anggrek jenis Cattleya sp., Dendrobium sp. dan Oncidium sp. Selain itu juga menyerang kubis, caisin, petsai, cabai, pepaya, krisan, kelapa sawit, lada, kentang, pisang dan jahe.

Patogen menginfeksi tanaman melalui akar atau masuk melalui luka pada akar rimpang yang baru saja dipotong, menyebabkan batang dan daun berkerut. Bagian atas tanah tampak merana seperti kekurangan air, menguning, dengan daun-daun yang keriput, umbi semu menjadi kurus, kadang-kadang agak terpilin. Perakaran busuk, pembusukan pada akar dapat meluas ke atas, sampai ke pangkal batang.
Jika akar rimpang dipotong akan tampak bahwa epidermis dan hipodermis berwarna ungu, sedang phloem dan xylem berwarna ungu merah jambu muda. Akhirnya seluruh akar rimpang menjadi berwarna ungu.

5

Bercak Daun Cercospora spp.

Konidium cendawan ini berbentuk gada panjang bersekat 3-12. Konidiofor pendek, bersekat 1-3, cendawan dapat terbawa oleh benih dan bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit selama satu musim. Cuaca yang panas dan basah membantu perkembangan penyakit. Penyakit dapat timbul pada tanaman muda, meskipun cenderung lebih banyak pada tanaman tua.

Semua jenis anggrek terserang oleh penyakit ini, terutama yang ditanam di tempat terbuka, seperti Vanda sp., Arachnis sp., Aranda sp., Aeridachnis sp. dan sebagainya.

Penyakit timbul hanya apabila keadaan lingkungan lembab. Mula-mula pada sisi bawah daun yang masih muda timbul bercak kecil berwarna coklat. Bercak-bercak dapat berkembang melebar dan memanjang, dan dapat bersatu membentuk bercak yang besar. Pada pusat bercak yang berwarna coklat keputihan, cendawan membentuk kumpulan-kumpulan konidiofor dengan konidium, yang bila dilihat dengan kaca pembesar (loupe) tampak seperti bintik-bintik hitam kelabu. Pusat bercak akhirnya mengering dan dapat menjadi berlubang. Gejala ini lebih banyak terdapat pada daun-daun tua.

6

Bercak Coklat Ralstonia (Pseudomonas) cattleyae (Pav.) Savul

Massa bakteri sering muncul di permukaan jaringan tanaman sakit. Penyakit ini berkembang pada kondisi lingkungan yang basah dan suhu yang tinggi. Penyakit dapat menular melalui alat-alat pertanian, air, media tumbuh dan benih yang terinfeksi.

Penyakit terutama menyerang Phalaenopsis sp. dan Catleya sp.

Penyakit ini terutama merugikan Phalaenopsis sp. Bagian tanaman yang terserang yaitu daun dan titik tumbuh. Penyakit sangat cepat menjalar, dan pada daun yang terserang terjadi bercak lunak, kebasah-basahan dan berwarna kecoklatan atau hitam. Penyakit meluas dengan cepat. Jika penyakit mencapai titik tumbuh, tanaman akan mati. Bagian yang sakit mengeluarkan lendir (eksudat), yang dapat menularkan penyakit ke tanaman lain, melalui penyiraman.
Pada daun Cattleya sp. penyakit tampak sebagai bercak-bercak mengendap, hitam dan kebasah-basahan. Pada umumnya penyakit hanya terbatas pada satu atau dua daun, dan tidak mematikan tanaman.

7

Busuk Lunak Erwinia spp.

Sel bakteri berbentuk batang, tidak mempunyai kapsul, dan tidak berspora. Bakteri bergerak dengan menggunakan flagela yang terdapat di sekeliling sel bakteri.
Bakteri patogen mudah terbawa oleh serangga, air, media tumbuh dan sisa tanaman yang terinfeksi, serta alat-alat pertanian. Suhu optimal untuk perkembangan bakteri adalah 27° C. Pada kondisi suhu rendah dan kelembaban rendah bakteri terhambat pertumbuhannya.

Penyakit ini dapat menyerang semua jenis anggrek bahkan tanaman lain yang lunak jaringannya.

Penyakit ini menyerang tanaman anakan dalam kompot. Daun-daun anakan terlihat berair dan warna daun berubah kecoklatan. Pada pseudobulb atau bagian lunak lainnya terjadi pembusukan disertai bau yang tidak enak. Bakteri ini menimbulkan pembusukan pada jaringan yang lunak dan pada jaringan yang bekas digigit serangga.

8

Rebah Bibit Pythium ultinum, Phytohpthora cactorum dan Rhizoctonia solani.

Patogen tersebut terpencar malalui air. R. solani bertahan lama di dalam tanah (media tumbuh).

Penyakit ini dijumpai pada tanaman muda dalam kompot pada anggrek jenis Cymbidium sp., Dendrobium sp., Oncidium sp. dan sebagainya.

Pada tanaman muda ditandai dengan gejala damping off, yaitu tanaman mati dan roboh. Bagian pangkal tanaman membusuk, sehingga tidak kuat berdiri tegak. Penyakit berkembang ke atas ke bagian-bagian lunak lainnya.

9

Bercak Daun Pestalotia sp.

Patogen memencar dengan spora yang terjadi apabila ada perubahan yang mendadak dari keadaan basah kemudian kering dan disertai angin.

Penyakit ini dijumpai pada anggrek jenis Vanda sp., Arachnis sp., Dendrobium sp. dan Oncidium sp.

Pada daun-daun tua dijumpai bercak dengan titik-titik hitam di bagian tengahnya. Mula-mula bercak berwarna kuning agak coklat.

10

Bercak Botryodiplodia sp.

Penyakit memencar dengan sporanya yang berada di dalam badan buahnya. Spora memencar bila terjadi perubahan cuaca yang mendadak dari basah ke kering.

Penyakit ini dijumpai pada anggrek jenis Vanda sp. dan Arachnis sp.

Pada anggrek Vanda sp. penyakit ditandai dengan bercak memanjang berwarna coklat sampai hitam. Gejala terjadi baik di daun maupun batangnya. Bercak tidak terbatas pada bagian-bagian yang tua saja tetapi yang mudapun terserang.

11

Bercak Bunga Botrytis cenerea

Penyakit ini berkembang bila kelembaban sangat tinggi. Pemencaran penyakit dilakukan dengan sporanya yang sangat mudah diterbangkan angin.

Penyakit ini terutama menyerang bunga pada anggrek jenis Phalaenopsis sp. dan Cattleya sp..

Pada mahkota bunga mula-mula terdapat bintik-bintik hitam. Bila penyakit telah berkembang lebih lanjut dengan bintik yang sangat banyak, bunga akan busuk dan menghitam.

12

Karat Uredo sp.

Spora patogen mudah melekat pada kaki serangga dan oleh tiupan angin. Kondisi lingkungan yang lembab sangat membantu perkembangan penyakit.

Penyakit karat dijumpai pada Oncidium sp. dan jenis-jenis lainnya.

Pada permukaan daun terdapat pustul berwarna kuning. Setiap pustul dikelilingi oleh jaringan daun klorotik. Serangan yang hebat menyebabkan daun mengering.

13

Virus Mosaik Cymbidium (Cymbidium mosaic virus= CyMV) Virus mosaik cymbidium dikenal juga dengan nama “Cymbidium black streak virus” atau “Orchid mosaic virus”.

Partikel CyMV berbentuk filamen memanjang berukuran 13 x 475 nm. Virus ini menular secara mekanik melalui cairan atau ekstrak bagian tanaman sakit, tetapi tidak menular melalui biji ataupun serangga vektor.

Virus ini dijumpai pada 8 genera, yaitu Aranthera sp., Calanthe sp., Cattleya sp.,Cymbidium sp., Gromatophyllum sp., Phalaenopsis sp., Oncidium sp., dan Vanda sp.

Pada Cymbidium sp. gejala mosaik akan tampak lebih jelas pada daun-daun muda berupa garis-garis klorotik memanjang searah serat daun. Bunga pada tanaman Cattleya sp. yang terinfeksi biasanya memperlihatkan gejala bercak-bercak coklat nekrosis pada petal dan sepalnya. Bunga biasanya berukuran lebih kecil dan mudah rontok dibandingkan dengan bunga tanaman sehat.

14

Virus Mosaik Tembakau Strain Orchid (Tobacco Mosaic Virus-Orchid = TMV-O)
Virus ini dikenal juga dengan nama virus bercak bercincin odontoglossum (odontoglossum ringspot virus = ORSV).

Partikel virus berbentuk batang berukuran 18 x 300 nm. TMV-O mudah ditularkan secara mekanik melalui ekstrak bagian tanaman sakit, tetapi tidak menular melalui serangga vektor ataupun biji.

Jenis-jenis anggrek lain yang dapat terserang virus ini mencakup Dendrobium sp., Epidendrum sp., Vanda sp., Cattleya sp., Oncidium sp. Cymbidium sp. dan Phalaenopsis sp.

Pada beberapa jenis anggrek seperti Cattleya sp., gejala infeksi virus ini bervariasi, yaitu berupa garis-garis klorotik, bercak-bercak klorotik sampai nekrotik atau bercak-bercak berbentuk cincin. Pada Oncidium sp. bercak-bercak nekrotik berwarna hitam tampak nyata pada permukaan bawah daun. Di lapang persentase tanaman anggrek Oncidium sp. terinfeksi virus ini dapat mencapai 100 %. Gejala pada bunga, misalnya pada anggrek Cattleya sp., berupa mosaik pada sepal dan petal. Bagian tepi bagian bunga ini biasanya bergelombang.

PENGENDALIAN OPT ANGGREK

a. Fisik
Media tumbuh disucihamakan dengan uap air panas agar tanaman bebas dari OPT yang dapat ditularkan melalui media tumbuh. Untuk menghindari penularan virus, usaha sanitasi harus dilakukan meliputi sterilisasi alat-alat potong. Setelah dicuci bersih alat-alat potong dipanaskan dalam oven pada suhu 149 ° C selama 1 jam.

b. Mekanis
Pengendalian secara mekanis dilakukan bilamana serangga hama dijumpai dalam jumlah terbatas. Misalnya pada pagi dan sore hari kumbang gajah dapat dijepit dengan jari tangan dan dimatikan. Demikian pula kutu tempurung pada daun anggrek dapat didorong dengan kuku, tetapi harus dilakukan secara hati-hati lalu dimatikan. Keong besar atau yang kecil dengan mudah dapat ditangkap pada malam hari dan dimusnahkan. Dengan membersihkan sampah dan gulma, maka keong tidak mempunyai kesempatan untuk bersarang dan bersembunyi.
Pengendalian secara mekanis juga dilakukan pada bagian tanaman yang menunjukkan gejala serangan penyakit, yaitu dengan memotong dan memusnahkan bagian tanaman yang terserang.

c. Kultur Teknis
Pemeliharaan tanaman yang baik dapat meningkatkan kesehatan tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh lebih subur. Penyiraman, pemupukan dan penambahan atau penggantian media tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Secara tidak langsung pemeliharaan yang berkelanjutan dapat memantau keadaan tanaman dari serangan OPT secara dini.
Penyiraman dilakukan apabila diperlukan dan dilakukan pagi hari sehingga siang harinya sudah cukup kering. Pelihara tanaman dari serangan atau kehadiran serangga yang dapat menjadi pembawa atau pemindah penyakit. Udara dalam pertanaman sebaiknya dijaga agar tidak terlalu lembab, sehingga penyakit tidak mudah berkembang.
Tanaman yang baru atau diketahui menderita penyakit diisolasi selama 2-3 bulan, sampai diketahui bahwa tanaman tersebut betul-betul sehat. Tanaman yang akan dibudidayakan sebaiknya juga berasal dari induk yang telah diketahui bebas penyakit.

d. Kimiawi
Untuk pengendalian OPT anggrek dapat dipilih jenis pestisida yang tepat sesuai dengan organisme pengganggu tumbuhan yang akan dikendalikan. Formulasi pestisida dapat berupa cairan (emulsi), tepung (dust) pasta ataupun granula. Konsentrasi dan dosis penggunaan biasanya dicantumkan pada tiap kemasan. Jenis-jenis pestisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan OPT pada tanaman anggrek tercantum dalam Lampiran 1. Sebagai pencegahan, pot atau wadah lainnya, alat-alat seperti pisau dan gunting stek, sebaiknya setiap kali memakai alat-alat tersebut, disucihamakan dengan formalin 2 % atau desinfektan lainnya.

e. Hayati
Dilakukan dengan menggunakan :
• Predator tungau : Phytoseiulus persimilis Athias Heniot dan Typhodiromus sp. (Phytoseiidae)
• Predator kutu daun : kumbang koksi (Coccinelidae), lalat Syrpidae, dan laba-laba Lycosa sp.
• Predator kutu putih : Scymnus apiciflavus.
• Predator bekicot Achatina fulica : Gonaxis sp., Euglandina sp., Lamprophorus sp., dan bakteri Aeromonas liquefacicus.
• Parasitoid Thrips : Famili Eulophidae
• Parasitoid kutu daun : Aphidius sp. dan Encarsia sp.
• Parasitoid pengorok daun Gonophora xanthomela : Achrysocharis promecothecae (Eulophidae).
• Pemanfaatan agens antagonis Trichoderma sp., Gliocladium sp. dan Pseudomonas fluorescens untuk penyakit layu Fusarium sp. dan Ralstonia (Pseudomonas ) solanacearum.

Sumber :

B. Joko Prasojo, 1986, Merawat Anggrek, Bonus Majalah Trubus Edisi Oktober 1986, Trubus, Jakarta, hal : 20 - 30.

Skelsey. 1983. Orchids. The Life Time Encyclopediaof Gardening vol. 22. Alexandria, Virinia, USA.

Soeryowinoto, Sutarni M. 1974. Merawat Anggrek, Yayasan Kanisius, Yoyakarta.

William, Brian et. Al. 1985. Orchids for Everyone Salamander Books, London.

Winata Gunawan, Livy. Dr. Ir. 1986. Budidaya Anggrek. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar